Rabu, 7 Oktober 2015 | 12:11am
PENYAIR dari Brunei, Kris karmila pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR dari Brunei, Kris karmila pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR Malaysia, Ahmad Shukri Abdullah pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015. - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR Malaysia, Ahmad Shukri Abdullah pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015. - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR dari Filipina, Profesor Rebecca T.Anonuevo pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR dari Filipina, Profesor Rebecca T.Anonuevo pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman

Lantunan suara perpaduan, keamanan ASEAN



BUKAN setiap hari kita dapat mendengar lantunan suara pemuisi dari ASEAN pada satu pentas. Justeru, tidak hairanlah acara puisi sempena Diversecity 2015: Festival Seni Antarabangsa Kuala Lumpur yang berlangsung di ibu kota, baru-baru ini, membawa 'nada' istimewa tersendiri.

Berlangsung di Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, acara genre Sastera yang direncana sebagai pengisian Pertemuan Penyair ASEAN itu, bukan saja meraikan kepelbagaian sastera, bahkan lebih utama, meraikan perpaduan antara negara ini dengan rakan serantau.

Dengan tema Suara Kemanusiaan, acara kendalian penyanyi lagu rakyat, Roslan Madun itu menonjolkan keinginan yang serupa, iaitu keamanan dan kesejahteraan sejagat tanpa mengenal perbezaan.

Tidak hanya sekadar mengungkapkan jalinan puisi, lebih utama lagi adalah peranan penyair serantau yang menjadi jambatan pada ungkapan keamanan dan kesejahteraan sejagat.

Penyair dari Singapura, Rasiah Halil melalu puisinya, Kebenaran Itu Akan Berlidah, berkongsi kisah mengenai puisi yang mendapat ilham daripada video klip Gaza.

Puisi tiga rangkap itu mengalunkan ekspresi kesedihan Rasiah, yang cuba merasai penderitaan dialami masyarakat yang terpaksa berdepan dengan penderitaan yang disebabkan oleh peperangan.

Kebenaran itu akan berlidah
jika kita lebih saksama
enggan disilau wang dan kuasa
lebih bersimpati dan memahami
yang tertindas bukan si Jalut
yang mempertahankan diri bukan pengganas
tika peluru, bom, fosforus menghujan
dan seketul batu di tangan kanak-kanak
hanyalah pengisytiharan:
Semangat juang itu tidak akan pudar

RAJA Rajeswari Seetha Raman mendeklamasi puisi pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
RAJA Rajeswari Seetha Raman mendeklamasi puisi pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman

Tampil kemudiannya ialah pensyarah di Jabatan Bahasa Melayu, Institut Pendidikan Guru (IPG) Kampus Bahasa Melayu, Dr Raja Rajeswari Seetha Raman, dengan puisinya Membaca Didaktika Semesta.

Bicara semesta bicara kebenaran
membisik suara kemanusiaan semakin tergelincir
warna semesta warna perasaan
melontar suara keyakinan semakin tercicir.
Meskipun pakaian kebenaran semakin basah
meskipun wajah perasaan semakin bernanah
Aka masih tabah memburu
sejalur pelangi muda.

Dari Kemboja, ditampilkan pula Penerima Anugerah Penulisan Asia Tenggara (SEA Write) 2003, Kim Pichpinun, yang membaca karyanya dalam bahasa Inggeris, Self Development, yang diterjemahkan daripada bahasa Khmer.

Puisi bertajuk Muhasabah Diri bagi versi bahasa Melayu itu, mengajak setiap insan merenungi semula sebab utama mereka berada di bumi ciptaan Tuhan.

Dilahirkan untuk menjadi manusia sempurna,
amat berlainan daripada haiwan,
oleh itu kita mesti melihat dengan jelas
kita, manusia yang berbeza daripada haiwan
Kia mesti berani, tanpa perlu bertindak ganas,
menjauhkan segala prasangka buruk,
kita mampu membuat pilihan terbaik,
dan meninggalkan semua perkara yang remeh

PENYAIR dari Brunei, Zefri Ariff Brunei turut hadir pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman
PENYAIR dari Brunei, Zefri Ariff Brunei turut hadir pada malam Deklamasi Puisi Asean 2015 di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). - Foto Halimaton Saadiah Sulaiman

Kemunculan penyair Indonesia, yang juga Penerima SEA Write 1979, Sutardji Calzoum Bachri, bertemankan harmonika yang dimainkannya sendiri, menarik perhatian penonton.

Sutardji ibarat melepaskan geram sehingga bukan saja menyampaikan beberapa puisi, bahkan turut berbaring di pentas semata-mata menghayati puisi yang disampaikannya,

Di pentas Diversecity 2015, Sutardji membawakan beberapa puisi, termasuk Tanah Air Mata, yang diciptanya pada tahun 1991.

Di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir.

Turut memeriahkan acara baca puisi itu ialah Datuk Dr Zurinah Hassan, Dr Lim Swee Tin, Zaen Kasturi, Melizarani Selva dan Ahmad Shukri Abdullah dari negara ini, selain Suraido Sipan (Singapura); Kris Karmila dan Zefri Ariff (Brunei Darussalam); Saithansipo Rattanaphan dan Zakariya Amataya (Thailand); Maung Day dan Maung Pyiyt Minn (Kemboja) dan Prof Rebecca T Anonuevo (Filipina).

Berita Harian X